Perempuan Hebat

  Nashir Ramadhan   Dec 22, 2013   Uncategorized   0 Comment

17 Oktober 2012

Hari ini hari pertama aku bekerja setelah 5 bulan lulus sekolah SMK dan menjadi pengangguran :)

Aku bekerja di sebuah perusahaan Fashion dari German sebagai Social Media Specialist + Photographer.

Lokasi kantor yang berada di Setraduta cukup jauh dari rumah ku yang berada di kawasan Gatsu.

Untuk menuju kantor pun aku harus meminjam motor kepunyaan sepupuku, Karna motor yang baru Mamah belikan sebagai hadiah ulang tahun ku beberapa bulan lalu tak sengaja aku hilangkan,-

Aku tahu sepupu aku pun bekerja dan harus menggunakan motornya, Aku pun meminta lagi kepada Mamah untuk membelikan motor baru dan uang nya akan aku ganti, aku cicil dengan gajih bulanan ku.

Mamah seorang perempuan hebat yang sejak aku kecil mengurusku sendirian tanpa pernah dibiayayi oleh seorang lelaki bernama “papah”. Papah pergi meninggalkan kami sejak aku kecil tepatnya sejak aku kelas 5 SD dan kami jarang sekali bertemu. Paling cepat bertemu per 3 bulan 1x itu pun kalau aku belum tidur dan kalau aku berada di rumah. Kalau aku sedang main di luar dan papah datang sementara aku tidak ada di rumah aku pun harus menunggu 3 bulan lagi untuk bisa bertemu seorang lelaki yang bernama Papah.

 

Mamah pun meng-iya kan keingin ku untuk membeli motor baru untuk berangkat kerja, Padahal kondisi keuangan mamah pun sedang tidak baik, Mamah perlu banyak uang untuk mengobati penyakit yang sudah lama menggerogotinya, Tapi Mamah tetap lebih mendahulukan keinginan anaknya yang sama sekali belum bisa membuatnya bangga atas pencapainnya selama ini.

Aku pun sadar aku tidak lagi ingin di belikan motor baru, hanya aku ingin beli motor impian aku sejak kecil yaitu motor Yamaha F1ZR dan sedari dulu Mamah tidak pernah setuju kalau aku beli motor itu karna suara nya berisik dan hal lainnya.

Aku terus meyakinkan Mamah untuk membelikan motor ini, Akhirnya hati mamah pun luluh dan membolehkan aku untuk membeli motor impianku.

 

18 Oktober 2012

Akhirnya motor impian aku sejak kecil kebeli juga, Yamaha F1ZR bewarna oren seharga 3,5jt yang sudah lama aku impi-impikan kini sudah terparkir di halaman rumah ku. Aku berterimakasih kepada Mamah karna selalu memberi apa yang aku inginkan, Dan hari itu aku berjanji akan bekerja lebih giat dan mencicil untuk menggantikan uang berbobat Mamah yang di pakai untuk beli motor ini.

 

Hari ke hari aku pergi pagi ke kantor bersama motor baru dan pulang kembali sore hari. Mamah selalu menyambutku pulang dengan senyuman dan bertanya “gimana kerjanya? makan siang sama apa hari ini?”

Terkadang jika aku lelah aku hanya membalas “Ya gitu lah Mah” dan langsung menghempaskan badan di kamar, Tapi Mamah masih tersenyum dan tak pernah marah karna yang difikirkannya anak lelakinya sudah lelah bekerja dan Mamah pun selalu membawakan air minum ke kamarku.

 

1 November 2012

Hari pertama aku terima gajih, Gajih yang di bayarkan setengah bulan sebesar 800rb karna aku pun baru beberapa hari bekerja disini.

Aku pun pulang ke rumah dengan semangat, Aku membuka pintu “Assalamualaikum, Mamah Aa udah gajihan da, sambil mengeluarkan amplop gajih yang ada di dalam tas, Lalu mencium tangan Mamah

Syukur deh Aa kalau udah gajihan, Yang rajin yah kerjanya supaya tambah gede gajihnya.

 

Selama bekerja aku di ajari tentang Internet Marketing, tentang Web Design, tentang Web Developer, tentang Fashion, tentang Photography , bahasa German yang sayang jika hanya aku gunakan di saat aku bekerja, Jadi disela-sela kesibukan aku bekerja pergi pagi pulang sore, Aku membuat usaha sendiri Jasa Pembuatan Website, Jualan Hosting & Domain juga setiap sabtu / minggu aku suka dapet job Photography yang Alhamdulillah hasilnya lumayan.

Semakin hari career ku semakin naik, Usaha ku semakin berkembang dan per 1 Desember pun gajih di kantor menjadi 1,2 jt.

Hari itu semua penghasilan aku, Aku tunjukin ke Mamah aku kasih semuanya ke Mamah dan Mamah berkata “Mamah bangga, Aa harus lebih sukses lagi buktiin ke papah kalo Aa bisa jauh lebih sukses”

Aku menjawab : Iyah mah doain Aa, Aa mau beli mobil :)

 

Aku menitihkan air mata untuk pertama kalinya mendengar ucapan dari Mamah “Bangga” anak yang selama ini hanya bisa menyusahkan dirinya, merengek-rengek meminta sesuatu kali ini sudah bisa membuatnya bangga (:

 

Disaat career aku sudah naik, kondisi ekonomi keluarga sudah mulai membaik, penyakit Mamah kembali membuatnya merasakan sakit hingga akhirnya pada 31 Desember Mamah masuk Rumah Sakit, setelah di bujuk oleh tetangga, yang sebelumnya Mamah tidak mau di rawat di rumah sakit karna pasti akan mengeluarkan biaya yang besar.

Aku pun meyakinkan akan membayar semua biayanya dan kalau perlu jual lagi motor impian aku kalau uang aku kurang yang akhirnya Mamah mau di bawa ke Rumah Sakit Immanuel.

 

Setelah Mamah masuk ruang UGD aku keluar dan menelpon seseorang yang di handphone ke tertulis nama “Papah”. Pah., Mamah masuk rumah sakit cepet kesini (tanpa aku tahu sebenarnya papah sedang berada dimana) Papah pun menjawab rumah sakit mana ? Papah kesana sekarang. Alhamdulillah papah mau datang Immanuel pah cepetan kesini, Aa mau ke kantor dulu ngambil gajih. Okeh telpon pun aku matikan.

 

Sepulang dari kantor, setelah menerima gajih aku langsung menuju rumah sahabat ku yang biasa aku panggil “Hendrix” Aku memintanya menghantarkan aku ke Rumah Sakit sembari menemani aku.

Menjelang Maghrib kami sampai di Rumah Sakit Immanuel dan hujan pun turun. Aku langsung mengajak Hendrix menuju mushola dan meminta di sela-sela doanya tolong Doa kan Mamah ku agar lekas sembuh dan kembali ke rumah.

Ruangan Mamah sudah di pindah dari ruang UGD menjadi ruang rawat inap. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami temukan juga ruangan itu dan di depan ruangan aku melihat sosok laki-laki yang sedang duduk menunggu, Yah laki-laki itu ternyata Papah.

Jadwal Rumah Sakit yang membuat kami tidak setiap saat bisa masuk menengok membuat kami harus menunggu hingga pukul 9 Malam dan barulah kami bisa masuk. Aku dan Hendrix langsung mencium tangan Mamah yang sedang terbaring.

 

Mah inih gajih Aa bulan ini.

Mamah menjawab “Kasihin aja setengahnya ke nene, setengah lagi buat makan Aa sama jajan Dede, Mamah harus di rawat beberapa hari”

Aku pun memberikan seluruh gajih ku pada nenek tanpa peduli aku harus makan atau tidak.

Mamah kembali bertanya “Aa udah makan belum? Makan dulu atuh sama Hendrix beli makanan diluar / di kantin tadi juga katanya papah disana”

Aku dan Hendrix pun di ajak Papah menuju kantin rumah sakit yang disana tidak ada menu makanan yang aku suka dan aku lebih memilih cari makan di luar dengan Hendrix, Setelah berjalan cukup jauh dari rumah sakit kami berhenti di depan penjual Nasi Goreng dan kami memilih makan disini, kami makan hangat-hangat, berbincang dan tidak lupa menyeduh kopi GoodDay kesukaan, berlama-lama kami duduk di tempat kami makan, Jalanan yang masih hujan pun tetap ramai, Ahh iya jam 12 ini tahun baru 2013. Aku pun langsung kembali menuju rumah sakit masuk ruangan mamah dan mengucapkan Selamat Tahun Baru sembari mengecup kerutan yang ada di dahi nya.

 

Aa pulang aja, Mamah ada nenek sama papah yang jagain disini. (sambil menggenggam tanganku erat) Tapi Mah?? “udah pulang aja kasian Dede sendirian”

Oh ya udah Aa pulang dulu mah dan mengecup keningnya 1x lagi.

Aku dan Hendrix pun pulang menuju rumah masing-masing

 

1 January 2013

Untuk pertama kalinya ngerayain tahun baru di rumah sakit huuh -.-

Karna hari ini libur aku yang full jagain Mamah di rumah sakit

Malam harinya aku pulang karna esok harus pergi kerja

 

Esok harinya Sesampainya di kantor aku bercerita bawah Mamah masuk rumah sakit.

Sejak hari itu aku tidak pernah konsen dengan kerjaan ku.

Jam 4 sore waktunya pulang, aku langsung menuju rumah sakit dan masuk ruangan mamah.

Aku sedikit terkejut + gelisah, Di ruangan Mamah banyak sekali tetanga-tetangga berkumpul, Aku berlari ke depan dan ingin melihat ada apa sebenarnya. Ah untung lah Mamah tidak apa-apa, tetangga-tetangga memang baik terhadap mamah dan juga keluarga ku.

Nenek pun berbisik A.. disini biayanya 1 juta 1 hari, aku hanya memejamkan mata dan berfikir dari mana lagi aku harus mencari uang jika mamah harus di rawat beberapa hari disini, apa lagi penyakit Mamah yang mengharuskan mamah di oprasi. Tapi menurut aku dengan biaya yang begitu mahal tidak sebanding dengan fasilitas yang mamah dapatkan disini.

Aku pun memeluk mamah yang terbaring lemah dan berbisik di telinganya : Mahh, Pindah aja yuu ke rumah sakit yang memang memadai dan bisa menangani penyakit mamah, Setau Aa di Singapore katanya banyak dokter-dokter profesional dan rumah sakit nya juga bagus.

Aku menangis, Mamah menangis

Mamah “Udah mamah mau pulang aja, gak mau di rawat, bukannya uang nya mau di beliin mobil impian Aa?”

Hari itu aku ngerasa laki-laki paling goblok, paling bodoh kalau aku tetep egois pingin beli mobil.

 

“Engga Mah, serius gapapa percuma kalau Aa punya mobil tapi ga punya Mamah” Tangisanku pun seakan-akan semakin ingin berteriak dan menagis sekeras-keranya tapi aku tahu ini rumah sakit. bukan tempat yang bisa aku gunakan untuk menangis keras. di sebelah ruangan Mamah masih ada orang sakit, orang yang harus di rawat dan tidak bisa berisik.

“Pindah aja atu Mah ke rumah sakit lain yang lebih bagus.” aku memohon agar Mamah masih tetap mau di rawat dan tidak ingin pulang dulu ke rumah sampai sembuh.

Aku langsung menghampiri dokter yang bertugas merawat dan menjaga Mamah. “Dok kira-kira mamah saya ada kemungkinan sembuh ga ? berapa lama kira-kira?”

Dokter hanya menjawab “Maaf tidak bisa di ketahui”

Menurut aku itu adalah jawaban ter-bodoh dari seorang yang memiliki gelar dokter!

Kalau gitu saya mau Mamah saya pindah rumah sakit saja, tolong bantuannya.

Lagi-lagi dokter menjawab “Mohon maaf kami tidak bisa membantu, Anda bisa uruskan sendiri”

 

Aku yang sudah kesal tidak ingin lagi bertanya kepada s dokter. Aku menghampiri Mamah dan bilang bahwa aku akan mencarikan Rumah Sakit yang jauh lebih baik.

Malam ini hujan masih turun deras, aku meminta papah menghantarkanku menuju rumah sakit yang lain dan papah membawa ku ke Rumah Sakit Santo Yusup. setelah masuk kami mencari bagian informasi dan bertanya apakah bisa jika ingin pindah rumah sakit? Bagian informasi pun menjawab “Seharusnya dari Rumah Sakit sana yang mengurus kepindahan bukan dengan sendiri”. Ahh iya emang rumah sakit tidak berkualitas jawabku dalam hati.

Aku menjawab : tidak tahu kami disuruh mengurusnya sendiri

Pegawai : dari rumah sakit mana?

Aku : Immanuel

Pegawai : baik kalau begitu Anda langsung menuju kesana, tanyakan apakah masih ada ruangan yang kosong atau tidak

Aku dan papah langsung menuju tempat yang di tunjukan oleh pegawai tersebut.

Kali ini papah yang bertanya dan jawabannya adalah sedang tidak ada kamar kosong.

arrgggHHHH!!!!!

Kami kembali ke Immanuel dengan keadaan basah dan membawa kabar buruk bahwa Mamah belum bisa pindah.

Aku pun di suruh pulang lagi oleh Mamah karna esok harus kerja.

Aku langsung pulang, istirahat dan tidur.

 

Esok harinya sepulang kerja sesampainya di rumah aku melihat Mamah sudah ada di rumah.

“Mah kenapa udah pulang lagi???”

Mamah : Mahal Aa, baru 3 hari juga udah habis 3 jt lebih.. Mamah udah lumayan kok.

Aku hanya terdiam merenung tentang kebodohan aku yang hanya bisa memaksa dan meminta ingin ini ingin itu tapi belum bisa memberi disaat Mamah sedang membutuhkan.

Malam harinya penyakit mamah kembali kambuh dan harus di bawa ke rumah sakit. Tapi kali ini aku tidak mau di bawa lagi ke Rumah Sakit Immanuel akhirnya kami membawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah setelah di pasangkan alat bantu untuk bernafas, kondisi Mamah sedikit membaik.

Tapi dokter disini pun berbicara bahwa rumah sakit ini belum sanggup untuk merawat Mamah karna keterbatasan alat. Aku paham, setelah 1 hari esok malam nya Mamah pindah lagi ke Rumah Sakit Pindad.

Mamah tau anaknya harus bekerja, harus mencari uang untuk biaya pengobatan, makan dll. tidak bisa menjaganya terus-terusan di rumah sakit karna bisa-bisa di keluarkan dari tempat kerjanya.

Mamah kembali mengucap “Mamah udah sehat ko, Mamah mau pulang aja ke rumah” akhirnya setelah 1 hari di RS. Muhammadiyah dan 1 hari di RS. Pindad Mamah kembali pulang ke rumah.

 

5 January 2013

Penyakit Mamah semakin menjadi, Aku bertanya kepada tetangga-tetangga rumah sakit mana yang bagus di Bandung ga peduli mau mahal juga. Beberapa menyarankan Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Kami pun langsung membawa Mamah kesana. Disinilah menurutku tempat terbaik untuk Mamah, Mamah dapat pelayanan yang baik, ruangan yang nyaman juga dokter yang profesinal beserta fasilitas yang lengkap.

Aku pun bisa mulai tenang bekerja. Kami ber 3 bergantian bergiliran tidur di Rumah Sakit menjaga Mamah, Nenek lah yang setiap hari 24 jam menjaga dan berada di samping mamah, Sementara aku tidur di rumah sakit jika hari libur saja. Adik ku pun sama jika hari libur tidur di Rumah Sakit dan waktunya nenek istirahat pulang di rumah.

Setiap hari aku 3x balikan ke rumah sakit. Pertama pagi sebelum berangkat ke kantor aku selalu ke Rumah Sakit membawa kan makan pagi yang sudah adik / sepupu aku buatkan untuk nene. Lalu aku pamit untuk berangkat kerja.

Kedua Pulang kerja aku selalu mampir sepulang kerja melihat keadaan Mamah.

Lalu pulang dulu untuk makan dan persiapan lain nya, lalu kembali lagi ke Rumah Sakit dengan adik ku sampai larut malam hingga Mamah menyuruh kami pulang. Terkecuali jika hari libur adik aku tinggal disana dan aku pulang dengan nenek.

Setiap hari nenek selalu berada di rumah sakit jadi nenek pun sakit, ahh iya sudah lebih dari 3 minggu nenek kurang tidur, pikiran tidak tenang selalu memirkan mamah.

Tapi ada perubahan di diri mamah, wajah Mamah mulai kembali bersinar, mulai bisa tersenyum dan tertawa, Mulai bisa makan banyak. setelah 3 minggu lebih di rawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin.

 

1 February 2013

Aku kembali menerima gajih bulanan ku. Tapi aku di peringati oleh boss karna akhir-akhir ini aku sering telat datang ke kantor. Budaya German yang tepat waktu tidak perduli dengan kenapa aku sering telat. Aku pun meminta maaf dan bercerita aku telat karna pagi-pagi aku harus menghantar adik ku ke sekolah dan ke rumah sakit memberikan sarapan untuk nenek. Mulailah mereka mengerti.

Setelah pekerjaan beres aku pulang dan langsung menuju Rumah Sakit. di Hasan Sadikin di bebaskan kapan saja untuk menengok pasien kecuali pagi hari karna harus di bersihkan dahulu. tidak seperti di Immanuel waktu besuk di jam dan terbatas.

Aku menghampiri Mamah “Mah JANJI sembuh yah, beberapa hari lagi Mamah bisa pulang ke rumah, Nanti kalau Mamah udah sembuh dan pulang ke rumah ulang tahun Aa 14 Febuary kita jalan-jalan ke Jogja dan tempat-tempat yang mau Mamah kunjungi”

Mamah tersenyum “Iyah A Mamah JANJI sembuh, makasih yah”

Dokter memberti tahu kami bahwa beberapa hari lagi Mamah sudah bisa pulang ke rumah tapi sebelum pulang harus beli dulu alat Nebulizer untuk membantu penguapan dan memperlancar pernapasan, Aku yang baru gajihan langsung saja membelikan alat tersebut yang ternyata harganya setengah dari gajih aku sebulan. Ah tak apa lah.

 

6 February 2013

Mamah sudah di perboleh kan pulang ke rumah oleh dokter. Hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk kami semua, Mamah sudah sehat dan bisa di kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah aku langsung mengabari teman-teman ku bahwa Mamah sudah pulang, Sudah ada di Rumah.

Tak lama beberapa teman berdatangan dan bercanda-canda dengan Mamah, Mamah sudah bisa tertawa lepas tawa yang sudah lama tidak aku lihat sejak 1 bulan lebih terakhir Mamah terbaring di rumah sakit. Aku bersyukur kepada Tuhan.

 

Tapi Mamah masih belum bisa bernafas tanpa bantuan selang pernapasan, dan tabung gas yang kecil seharga 30rb 1x isi hanya bisa bertahan 2 jam itu pun untuk mengisi tidak mudah dan jauh dari rumah dan hanya buka sampai jam 4 sore, Kami bingung apa yang harus kami lakukan jika gas di tabung sudah habis dan tidak ada cadangan. Kami sudah meminjam hingga 3 tabung tapi tetap saja jika malam habis kami tidak tau harus mengisi kemana.

Setelah mencari-cari di Internet aku menemukan tempat yang menyewakan tabung besar yang bisa bertahan hingga 1 hari. dan di hitung hitung harganya pun lebih murah hanya 85rb 1 tabung besar bisa 1 hari dari pada harus mengisi tabung kecil yang 2 jam sudah habis.

 

Karna Mamah masih di selimuti rasa khawatir kami pun menambah menjadi menyewa 2 tabung besar, yang kalau tidak salah harga sewanya sekitar 1,5jt/ tabung. Tapi katanya uang sewa hanya jaminan saja dan akan di kembalikan jika barang sudah di kembalikan. Ah terimakasih lagi untuk Tuhan selalu mempermudah jalan kami.

 

11 February 2013

Setelah 4 bulan bekerja disini aku di tawarkan untuk di kontrak selama 2 tahun dan bekerja di German. Sebuah peluang yang jarang sekali orang lain dapatkan. Peluang yang akan membawa hidupku jauh lebih baik dan mungkin aku akan jauh lebih sukses jika bekerja di negara orang. Tapii… Aku menolak karna lebih memilih bersama orang tua yang sedang sakit di banding aku harus pergi jauh ke German dan hari itu juga aku resmi mengundurkan diri dari perusahaan agar lebih banyak waktu di rumah dan bisa merawat Mamah dengan tenang.

Aku pun pulang ke rumah dan membawa berita yang pasti akan membuat Mamah lebih “Bangga” lagi. “Mahh Aa di tawarin kerja di German selama 2 tahun”

Mamah : Alhamdulillah sambil melepaskan selang di hidungnya agar lebih mudah berbicara, Kapan berangkat ?

Aku : Kayanya engga akan mah :(

Mamah : Kenapa ?

Aku : Aa lebih milih jaga Mamah dari pada harus jauh dari Mamah, Aa juga udah mutusin untuk berhenti kerja. Jadi mulai besok Aa udah ga kerja lagi jadi bisa jaga Mamah terus :)

Mamah menangis dan mencoba memeluk tubuhku : “Makasih A, Mamah juga ga bisa jauh dari Aa, Terus gimana impian Aa pingin ke luar negri?”

Aku : “Udah lah mah gampang itu mah, Yang penting mamah sembuh dulu, 3 hari lagi kita berangkat ke Jogja. Oh iya inih Aa di kasih lagi gajih Aa separuh bulan. Pegang buat bekal nanti ke Jogja”

 

Esok Harinya penyakit Mamah kembali kambuh. Siang hari saat sedang duduk di kursi Mamah seakan berbicara dengan seseorang, menyebut-nyebut “bapa” yang berarti kakek aku yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Nenek pun bercerita bahwa Mamah sangat dekat dengan kake, setiap Mamah sakit parah kake selalu datang menengok Mamah, Dan hanya Mamah yang bisa berbincang dengan kake.

Hari itu aku menyaksikannya langsung. Mamah berbicara dengan kake, Mamah melambai-lambaikan tangan saat kake akan kembali pergi dan Mamah berhenti bicara saat kake sudah pergi.

Malam harinya Mamah semakin menjadi-jadi, kami bawa Mamah ke Rumah Sakit terdekat RS. Muhammadiyah tapi dokter kembali bilang lebih baik di bawa lagi ke Hasan Sadikin karna disana perawatan jauh lebih baik. Akhirnya 12 February 2013 pun Mamah kembali masuk ke RS. Hasan Sadikin padahal baru 5 hari yang lalu pulang dari sini.

Kali ini Mamah tidak di rawat di ruangan yang nyaman seperti kemarin karna ruangan sedang penuh. Mamah di rawat di ruang isolasi yang hanya ada Mamah sendiri disana. Aku pun tidak mengabari keluarga di rumah, mungkin keluarga di rumah tau nya Mamah di bawa ke Muhammadiyah. Karna aku tidak mau membuat mereka panik malam hari. Aku dan papah ber 2 menjaga Mamah, Mamah tidak bisa tidur aku pun menjadi tidak tidur, Mamah selalu gelisah dan berbicara yang aneh-aneh. Aku tidak mengerti, papah diluar sana menunggu hasil labolaturium, Mamah berbicara semakin aneh aku hanya bisa memeluk Mamah dan ber-istigfar. Pikiran Mamah ntah ada dimana, Seperti ada yang mengajak Mamah untuk “pulang” Mamah tidak bisa diam dan selalu ingin turun dari tempat tidur nya, Aku hanya bisa menahan sambil menangis seorang diri.

 

Esok harinya setelah papah kembali, dan menyuruh aku keluar mengurus biaya administrasi sendiri yang aku gak tau gimana prosedurnya. Argh aku tau alasan kenapa papah tidak mau mengurusnya. Akhirnya aku pun mengurus sendiri untuk Administrasinya dan sambil menunggu aku baru menelpon ke rumah kasih tau kalau mamah balik lagi ke RS. Hasan Sadikin.

Setelah semua selesai aku kembali ke ruangan Mamah hingga akhirnya sekitar jam 10 siang Nenek datang. Setelah ada nenek aku pamit ke papah untuk pulang dulu sebentar, Aku melihat papah sangat lemas karna menunggu semalaman, papah sakit papah hampir pingsan juga, Aku tidak jadi pulang dan hanya keluar untuk membeli makan untuk papah, mungkin papah kecapean hingga lupa makan.

Jam 12 siang adik aku sampai di Rumah Sakit dan katanya Izin dari sekolah padahal dia sedang menghadapi Ujian Sekolah.

Setelah ada adik, ada nenek, kondisi papah udah membaik aku titipkan Mamah ke mereka dan pulang ke rumah untuk istirahat. Sore hari sebelum aku kembali ke Rumah Sakit aku menunggu sepupuku pulang kerja, Agar kami bisa bareng-bareng ke Rumah Sakit.

Setengah 4 setelah aku menunaikan sholat dan menunggu sepupuku pulang tetiba angin sangat besar masuk ke rumah. pikiran ku memburuk. aku memikirkan hal yang aku takuti tentang Mamah, aku menelpon sepupuku agar cepat pulang. Tepat jam 4 dia sampai rumah dan hujan semakin keras.

Aku dan sepupu berbegas menuju Rumah Sakit menggunakan motor sepupuku.

Sesampainya di Rumah Sakit aku melihat posisi Mamah yang sudah tidak karuan. Tempat tidur yang harus nya untuk sandaran kembali malah menjadi tempat kaki nya, dan tempat kaki menjadi tempat kepalanya berbaring, aku langsung mengeluarkan bantal yang aku bawa dari rumah.

06.30 aku baru menunaikan shalat maghrib tebat di sebelah Mamah. Setelah aku selesai shalat Mamah memintaku mendekat disisinya, jangan jauh sedikit pun.

Aku pun berdiri tepat di sebelah kepala Mamah dan membacakan shalawat dan Mamah pun sebisanya mengikuti shalawat ku.

 

13 February 2013 19:15 setelah Mamah mengucap “Lailahaillah” Mamah terpejam dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku semakin menangis histeris dan memukulkan tangan ku ke dinding rumah sakit. Rasanya aku ingin mati hari itu juga. Badan ku semua lemas, tidak bisa berkata-kata, hanya bayang-bayang penyesalan seorang anak yang belum sepenuhnya mebahagiakan orang yang telah melahirkannya, merawatnya seorang diri hingga anak-anaknya tumbuh dewasa, belum sempat membelikannya mobil, rumah mewah, memberangkatkannya ke Tanah Suci seperti yang selalu aku janjikan.

Semua impian yang sudah aku rangkai semua hilang begitu saja.

“Mah, Bangun Mah besok hari ulang tahun Aa, besok kita ke Jogja, kita bakal seneng-seneng disana mah, Mah bangun Mahh….

 

Papah menepuk pundak ku. Sudah A mungkin ini emang jalannya, Mamah orang baik makanya Allah suruh Mamah “pulang” lebih cepat. Tuh lihat Mamah tetap tersenyum menandakan Mamah senang, Aa jangan nangis, udah nangis nya Mamah dan Papah udah Bangga sama Aa.

 

Aku mencoba kuat menghapus air mataku dan mengecup kening mamah untuk terakhir kalinya “Selamat Jalan Mamah”

 

Adik ku langsung mengabari tetangga bahwa Mamah sudah meninggal dan tolong persiapkan segala sesuatunya.

Jam set 9 malam kami keluar dari rumah sakit menuju rumah menggunakan Ambulace. ini adalah kali pertamanya aku menaiki ambulan dan orang yang terbaring di dalam ambulan adalah Mamah. Aku tidak peduli dengan motor yang aku tinggal di RS karna esok / lusa masih bisa aku ambil.

Sesampainya di rumah sejajaran warga Maleer sudah banyak dan bersiap-siap. Aku tahu Mamah orang yang baik jadi orang pun akan memperlakukan Mamah dengan baik. Kondisi di rumah pun sudah berubah semua kursi sudah di luar dan hanya terbentang karpet-karpet.

 

Aku duduk di sebelah Mamah dan menelpon sahabat ku Hendrix, Hendrix pun tidak percaya bahwa Mamah telah tiada, Hendrix yang malam ini masih jam bekerjanya langsung menuju rumah ku, merangkul ku dan memberi semangat, hari itu juga lah aku tak sadarkan diri, pingsan beberapa saat. dan saat sadar harus menerima bahwa mamah sudah “pergi”.

 

14 February 2013

Hari Ulang Tahun ku ke 18

Aku ingat 1 tahun yang lalu saat aku berulang tahun ke 17 aku masih mengadakan pesta syukuran ulang tahun bersama teman 1 kelas di rumah dan Mamah masih dalam keadaan sehat saat itu. Mamah senang anaknya sudah sampai di usia yang ke 17. Doa dan harapan Mamah saat itu “Semoga Aa menjadi anak yang lebih berbakti, sukses dan tercapai semua impiannya”

 

Hari ini saat semua impianku 1 per 1 sudah mulai tercapai, saat kesuksesan sudah di depat mata. Mamah malah pergi meninggalkan kami, Hari ulang tahun yang seharusnya kami rayakan lebih meriah lagi dari tahun sebelumnya, Malah di rayakan di tanah coklat, tidak ada kueh ulang tahun / pun makanan-makanan lezat yang ada hanya bunga-bunga dan batu nisan yang siap di tancapkan setelah Mamah di kuburkan.

 

Bandung, 22 Desember 2013

Selamat Hari Ibu untuk Mamah yang berada di Syurga

Salam dari anak mu yang begitu merindukanmu

♥ u mom :* ..

ABOUT AUTHOR

Nashir Ramadhan

Phone & WhatsApp: +6285795021995 | Line: nashirr | BBM: Teu Gaduh hehe

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Current ye@r *